angin kering berhembus membuat bulu kudukku berdiri.
di sela keramaian Grendeng-Pabuaran yang makin sepi di tinggal para mahasiswa mudik setelah ujian mid.
penduduk lokal mulai nampak setelah tiga bulan tertutup aktivitas pendatang.
sama seperti waktu-waktu yang lalu.

Purwokerto, 7 Nov 2009

Akhirnya.
kutemukan juga hotspot yang tersisa.
di sela-sela baterai yang hampir habis.
kuburu-buru mengetik di tengah hujan rintik.
tapi anehnya panas makin menerjang.

perut telah hangat terisi nasi rames
bertemankan oseng pare dan sayur lodeh
tak lupa tempe goreng.
mengingatkanku pada emak yang tak kunjung kutemui.

apa kabar emak?
andaikan kau bisa hotspot-an
tentu semua akan menjadi lebih mudah.
tapi sayangnya emak tidak bisa hotspot-an.
atau lebih tepatnya tidak mau.

“Tidak perlu”, kata emak.
“Kalau kangen, ya pulang saja, ketemu langsung”, tambahnya.

“Pulang kemana?” tanyaku.

tanyaku kini dijawab dengan titik
air mata panas.

Purwokerto, 5 Nov 2009

Sudah lama tak terisi
sebab makin kering isi.
sampai terlihat dasar
yang dahulu tak pernah ku lihat
sekalipun.

kenangan dan ingatan makin terlintas
melalui isi yang makin terkuras
makin perih
tetapi semakin ingin kulihat.

panas tersisa dari kenangan.

Purwokerto 5 Nov 2009

Bintang pantang tak gemintang
walau hari petang

Purwokerto, 27 Juli 2008

Malam mendekati tengah badan memuncak lelah. Kali ini mengisi acara sosialisasi cara dalam pemilihan umum 9 April nanti di Desa Pajerukan Kecamatan Kalibagor. Acara selesai dengan dingin menyeruak pasca hujan. Dinginnya makin bertambah dengan basahnya celana jeans hingga ngilu terasa, apalagi ditambah angin malam yang ku tentang dengan motor berkecepatan 80 km perjam.

Sesampainya di Purwokerto, saya menyempatkan diri mampir di warnet. Mulai kubuka alamat situs satu per satu. Salah satunya, facebook. Sedang asyik masyuk, tiba-tiba ada kawan yang on line, namanya Frendy. Ia adalah salah satu kawan baruku yang ku kenal di Jogja sewaktu Kongres Mahasiswa Sosiologi Se-Jawa beberapa waktu lalu. Frendy datang sebagai delegasi dari Universitas Indonesia sedangkan saya perwakilan diri sendiri yang datang dari Universitas Jenderal Soedirman.

Tanpa banyak cingcong, inilah chat kami malam itu.

10:23pmFrendy
Frendy lampu-lampu jalanan menerjang malam, tak kenal kesunyian.

10:29pmNyam
tiada lelah dalam sunyi, cahaya datang dalam kelam

10:30pmFrendy
bagai suara dalam kesunyian, sang agung datang dalam suara yang sunyi

10:31pmNyam
adakah sang agung jika datangnya kita ketahui dengan pasti dalam kesunyian?

10:33pmFrendy
kesunyian mendatangi yang bergemuruh, suara yang selalu diagungkan kini.
akan tetapi sang agung datang dalam kesunyian suara, yang aku ketahui dalam kemeuruhan suara
dalam kegemuruhan suara
dalam gemuruh suara kurindukan yang sunyi

10:38pmNyam
sunyi menari dalam gemuruh yang melahirkan suara-suara yang tak sanggup kita bendung hingga kita agungkan tanpa perlu mendengar. tiada rindu yang jatuh tanpa kita naikkan hati…

10:42pmFrendy
berdiri dalam kesunyian yang agung, hingga ku terhenti menari, mencari siapa yang menggerakanku tadi ketika menari? yang kutemukan adalah kekosongan yang agung. Hanya Sang penari yang ada.

10:57pmNyam
menari diri dalam sepi untuk berlari dari jiwa yang mati dalam hati berdiri tanpa pasti pada bumi menyongsong esok yang kosong

11:08pmFrendy
aku hendak berlari dari yang ada, karena yang kutemukan adalah kekosongan
adakah memang dari kekosongan lahir sesuatu yang tiada kosong?
dalam sebuah kesuraman harapan akan esok,
kusongsong sebuah harapan kosong,
akankah esok Cahaya itu kan datang?

11:25pmNyam
berlari karena ada menuju ada dalam derap langkah yang bermula dari jejak pertama.adakah masih kelahiran dalam kekosongan pada sebuah harap akan hari esok yang selalu hadir dengan semburat cahya yang semakin lama semakin berkilau.

11:22pm
Frendy sedang kebingungan ‘mencari tubuhku’ yang hilang. Adakah dia dimana?

11:26pmNyam
adakah tubuh jika masih saja tanya akan badan selalu hadir dalam takdir?

11:28pmFrendy
haruskah memang cahaya lembut setiap harinya, yang kan terangi tubuh ini. agar yang samar-samar semakin menghilang, dan bayang-bayang semakin tersembunyi?

11:33pmNyam
cahaya hadir tanpa silau, hanya saja terkadang kita yang membuatnya silau dan membuatnya berpendar dalam pandangan mata yang tak mampu memandang hingga meninggalkan jejak kelam. demikian cahaya dalam menanti kelam.

Lelah memuncak amat sangat, mata sudah berair. Kusudahi saja.
Zep!

Purwokerto, 22 Februari 2009

Adakah yang tersisa dari kata jika terbuang rasa dalam genangan akal tak bertemu dalam kelam malam pekat terikat waktu dingin membeku yang pecah tertambus peluru mata menyalak tajam menghujam dada.

Purwokerto, 21 Februari 2009

Kutitipkan kepada angin segala resah

Menggumpal bersama malam yang dingin

Menusuk merasuk ke dalam tulang dan darah

Menembus selimut dari kata-kata yang kujaring.


Kata-kata terus saja melayang terbang

Melintang pukang telinga-telinga yang tersebar

Menerabas kurun waktu yang melintang

Sepanjang jaman yang hingar bingar.


Kutitipkan kepada angin segala dendam

Menderu bersanding mendung yang lapuk

Menyayat nyeri kulit dan syaraf terpendam

Merobek paksa rajutan serat kata-kata yang kelu.


Kata-kata membeku abadi pada sebongkah kristal

Mengeras atas serbuan makna-makna yang terlahir

Sesak menjejak kata-kata yang bernafas binal

Menyeruak keluar menjadi kata-kata yang liar.


Kutitipkan kepada angin segala kata

Yang terucap dari mulut-mulut jaman

Kutitipkan kepada angin segala makna

Yang termakna dari ruang-ruang waktu


Kutitipkan kepada angin….


Purwokerto, 28 Januari 2009

Adakah,

Adalah harga sebenarnya

Terwujud sederhana.

Adakah

Adalah nilai sebenarnya

Terlahir biasa.

Adakah,

Adalah harga dan nilai

Tercipta dari rasa dan asa yang tak tertampung kata

Meluap bersama air mata

Membasahi tembok waktu yang selalu saja berdebu.


Purwokerto, 27 Januari 2009

Ku tunjuk saja bibir yang masih menempel pada wajah itu
Seraya menengadahkan kepala ke langit.
Adakah itu senyum sang rembulan?

Senyum itu selalu kau tujukan kepada ku
Di saat rembulan tak kunjung datang
Menyinari rumah yang ku susun dari matahari.

Senyum yang tidak pernah kau beri nama dan arti
Terus saja memancar tanpa perlu adanya cahaya
Tiada urusan diterima atau tidak sinaran.

Tidak pernah ku pinta cahaya rembulan demi rumah matahari
Tapi kau datang membawakannya sendiri
Melalui sunggingan bulan sabit di wajahmu.
Adakah itu senyum sang rembulan?

Purwokerto, 27 Januari 2009

Datanglah padaku
Segenap jiwa dan ragamu
Pada suatu masa tanpa perlu menunggu waktu
Kupanggil namamu dalam hening bulan
Sendu membiru raut wajah
Terbelai bulir bening memagut asa
Terucap jawab tantang mentari ribuan abad
Bersinar rona semesta sambut ribuan asa
Terumpah menggumpal menjadi nyata.

Purwokerto, 17 September 2008

Halaman Berikutnya »