Elips Hypatia

Posted on Agustus 6, 2010

0


”Apa penjelasan mudah dari gerak semesta?”, pertanyaan sederhana yang selalu mengusik si cerdas Hypatia. Sebenarnya Aristarchus sudah menjelaskannya berabad lampau melalui model heliosentrik. Sayangnya, buku-bukunya yang tersimpan di perpustakaan induk di Romawi habis terbakar sijago merah. Kini Hypatia pun menelusurinya di tempat yang jauh dari Romawi, pada sebuah agora di kota Alexandria.

Sudah seharian Hypatia di dalam agora selalu membaca dan belajar demi mencari jawaban atas pertanyaannya. Sementara di luar, para pedagang sibuk berjualan barang dagangannya di antara pilar-pilar Agora. Tak terasa hari sudah petang, Hypatia pun pulang kerumahnya yang berjarak 5 kilometer dari agora.

Malam datang dengan tumpukan kertas telah berulang kali di baca Hypatia. Terus tanpa lelah. Sesekali dahinya mengernyit serius, tapi kadang kala pula bibir merenggang senyum gembira. Kali ini wajahnya menengadah dan matanya menerawang ke atas mengarah ke langit. Tak berapa lama kemudian ia lari keluar menuju laboratorium sederhana.

Laboratorium yang berada di belakang rumah. Sebuah ruang terbuka, hanya ada sekotak petak tanah berpasir ukuran 5 x 3 meter. Di pinggir nya hanya ada beberapa bilah kayu panjang 3 meteran, segulung tali tambang, meja kecil dengan tumpukan kertas dan pena. Termasuk laboratorium maju abad ke 4 masehi. Di laboratorium ini pula berulang kali Hypatia gagal dengan percobaan lintasan lingkaran dalam menjelaskan gerak semesta. Tapi kali ini tidak, setelah bertahun- tahun penelitian, Hypatia menemukan bahwa gerak lintasan bumi selalu konstan sesuai dengan total dua jarak terjauh dari garis lingkaran, dengan demikian jumlah kedua-duanya selalu konstan. Lintasan yang terbentuk adalah elips dengan matahari sebagai pusat. Inilah dasar Kepler pada abad ke 17 mengembangkan Hukum Fisika Kepler yang legendaris itu.

***

Pada masa yang sama, kekuasaan Imperium Romawi sedang diujung tanduk . Orestes, murid Hypatia pun ditunjuk sebagai prefect Alexandria. Alexandria mencekam akibat kerusuhan massal. Orestes pun tak mampu mengatasi kerusuhan ini.

Adalah Uskup Cyril yang mengatasnamakan agama dan menggunakan kekuatan parabolani merebut agora dari kaum pagan, penyembah dewa-dewa terakhir di awal agama lahir. Segala peninggalan bangunan dan pengetahuan dihancurkan demi kesucian agama. Agora menjadi sasaran utama pembersihan dari kaum kafir. Setelah itu mereka memerangi kaum Yahudi dan melakukan pembantaian. Gelombang pengungsian besar-besaran terjadi, kota Alexandria dan agora dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan. Kaum Yahudi pun meninggalkan Alexandria.

Orestes pun meminta bantuan Synesius seorang Uskup dari Cyrene untuk meredakan kerusuhan ini dan membujuk Uskup Cyril. Synesius juga murid Hypatia. Tapi sayang, sudah terlambat.

Dua hari sebelum Hypatia menemukan lintasan gerak semesta, Uskup Cyril membacakan Surat Pertama Paul untuk Timothy di depan petinggi perfektur Alexandria di agora. Rupanya Uskup Cyril mendengar kalau Hypatia sedang mencoba mencari rahasia gerak semesta. Dikeluarkanlah keputusan  bahwa seorang perempuan tidak diijinkan untuk mengajar atau memiliki otoritas melebihi laki-laki, kecuali untuk berdiam. Diumumkanlah; Hypatia tak bertuhan dan seorang penyihir.

Malam yang sama dengan penemuan Hypatia diputuskan parabolani yang akan menghukum Hypatia, bukan pasukan Romawi.

Keesokan harinya parabolani menghukum Hypatia. Setelah diarak sepanjang kota, Hypatia dibawa masuk ke sebuah ruangan di dalam agora dan ditelanjangi. Davus, salah seorang petinggi pasukan parabolani mengeksekusi mati. Dengan kesedihan teramat dalam dan sakit tak terperikan Davus  membekap hidung dan mulut Hypatia, sampai Hypatia mati lemas. Davus pun lemas selemas-lemasnya, sebab ia murid Hypatia.[]

Posted in: Bercerita