
Senjata Penembak Runduk versi 3 (SPR-3) untuk sniper buatan Pindad
Raut wajahnya tergambar jelas melalui teropong pengintai ku. Sorot mata tajam dalam memandang, menandakan dia seorang yang tegas. Bening matanya menandakan dia bukan orang sembarangan di dunia pengetahuan. Ku ikuti kemanapun wajah itu pergi, tak lepas dari pengawasanku.
Badannya tidak terlalu besar, malah termasuk kecil bagi ukuran fisik orang Indonesia. Tapi, tampak terlatih, trangginas. Gesik geraknya menyatakan dia bukan anak kemarin sore dalam dunia beladiri.
Senyumnya tenang dengan bahasa tubuh menarik. Terkadang, tampak dari kejauhan, orang disekelilingnya tergelak bersama setelah dia bercerita. Aku tidak mendengar apa yang diceritakan, tetapi tawa mereka lepas tak ada beban, lucu dan segar tampaknya. Menandakan dia supel dengan banyak teman.
***
45 hari lalu ku terima perintah ini. Kewajiban yang harus keterima dengan siap. Tidak ada kata tidak. Kutinggalkan ibu tercinta yang sedang senang-senangnya mendapat cucu lelaki pertamanya. Ku sisihkan istri tersayang yang lagi sibuk-sibuknya mengurus lelaki pertamanya. Ku sampaikan kecup sayang pada anak lelaki pertamaku, yang baru bisa menggerakan kaki dan tangan. Meraka paham, dosen sepertiku wajib siap sedia penelitian dimanapun. Kali ini jauh dari rumah, kota, bahkan pulau kami. Ku pamit.
Briefing dilakukan di suatu tempat yang tak aku tahu. Banyak orang sudah berkumpul, tapi tak ada yang kukenal. Semua bertopeng di ruang remang. Kali ini sasarannya, seorang kepala sebuah gerakan rahasia. Gerakan yang mempertanyakan kedaulatan negara ini. Gerakan yang berusaha merong-rong keutuhan negara. Perintah khusus kepada ku tegas, musnahkan pimpinan gerakan tanpa jejak dan tercium media. Semua data kuterima. Selesai.
Langsung ku bergerak. Selama itu pula ku menguntitnya dengan berbagai cara. Pernah menjadi tukang bakso, tukang siomay, pemulung bahkan orang gila sekalipun. Kali ini ku sudah menyerupai tanah, kayu dan pepohonan.
***
Fajar datang. Segarnya pagi datang. Dia sudah bangun sedari tadi. Kebiasaan baik, bangun pagi, membaca buku, menulis lalu berolah raga sebentar. Dia tidak pernah sendiri, selalu dikelilingi orang-orang yang sering diberinya macam-macam cerita.
Jam 04.59. komando terakhir; semua anggota telah siap di posisi masing-masing. Formasi tempur telah siap. Tak ada gerakan sama sekali. Semua anggota tim tak bergerak sedikit pun, senyap. Sementara aku sudah 20 hari menjadi dahan di sebuah pohon berjarak 500 meter di sebelah barat rumahnya. Tak ada gerak sedikitpun. Sementara teropong pengintai ku sudah tepat mengarah ke dahinya.
Semenit kemudian: “Zep!”. Suara kecil tertutup riuhnya burung yang tak menyadari adanya aku di sebelahnya. SPR-3 kubangunkan perlahan dengan belaian jari telunjukku lembut.
Dia rebah dengan luka tembak di dahi, seketika anggota tim yang lain menyergap orang-orang sekelilingnya.
***
Sore hari di beranda rumah. Ku timang anak lelaki pertamaku sembari menceritakan pengalaman penelitianku di Pelosok Natuna kepada Ibu dan Istri tercintaku.[]
ni nyoman resini
Agustus 9, 2010
aku mnikmati cerita yang mnegangkan,semua mnjadi lega dan indah,ktika pada akhirnya berkumpul kmbali bersama kluarga tercinta setelah dpt mnyelesaikan tugas negara yg berat.