Kisah Vanilla

Posted on Agustus 20, 2010

13


Hatinya telah jatuh kepada lelaki sederhana ini. Xanat bertemu dengan lelaki ini setahun lalu ketika ia melakukan perjalanan menuju pantai yang terletak di ujung teluk Meksiko. Sepanjang perjalanan di dalam kota, seperti biasa, tidak ada yang berani memandang wajahnya. Memandang wajah putri sang dewa adalah maut. Demikian Xanat, iapun tidak boleh secara langsung memandang rupa setiap orang, dia harus memilih siapa yang diperbolehkan menatap wajahnya. Tidak pernah Xanat memandang wajah orang lain secara langsung, kecuali rupa ayah, ibu dan kakak lelakinya.

Perjalanan kini memasuki hutan. Daerah paling berbahaya di teluk Meksiko ini. Segala yang ada di dalah rimba ini berbahaya, mulai dari lekuk alam, binatang buas hingga pepohonan mengandung bisa mematikan. Di sini Xanat tidak khawatir akan memandang wajah siapapun, kecuali para pengawal pilih tanding.

Tiba-tiba di tengah perjalanan ada seorang lelaki pedalaman. Ia bukan bukan orang Totonac. Matanya menyalak menyapu tajam menatap berurutan rombonganku. Bukan, ini bukan mata insting pembunuh yang ada mata tajam penuh tanya. Mata ini pula yang menjadi mata pertama menghujam Xanat.

***

Sebulan sejak itu lelaki hutan itu terus memburu Xanat. Xanat pun baru mengalami hakl seperti ini. Setiap lelaki yang berani menatap karena takjub langsung kena kutukan dan dihukum mati oleh para petinggi kerajaan yang dipimpin sang ayah. Anehnya, lelaki hutan ini selalu lolos.

Waktu purnama. Upacara malam telah selesai. Xanat terkejut. Lelaki hutan telah berada di balkon kamarnya. Tak terbayang ia mampu melewati barisan pengawal pilih tanding kerajaan. Tak ada kata. Lelaki hutan hanya menyerahkan sekuntum bunga hutan berwarna hitam keungu-unguan kepada Xanat. Seumur hidup, baru kali ini Xanat tanpa canggung menerima pemberian dari orang tidak dikenal dengan selamat. Semenjak itu mereka pun menikah diam-diam.

***

Semua kenangan mengalir bersama tetes air mata Xanat. Lelaki hutan itu kini diarak menuju lembah tempat pertama kali tatapan mata terjadi. Ditengah rimba hutan lembah Mazatlan.

Air mata Xanat menitik. Pedang telah meluncur kepala menggelundung. Ia tahu hal ini tidak bisa dihindari, bahkan harus melihat aliran darah sang suami dengan buliran air mata dari kepalanya sendiri.

Posted in: Bercerita