Lelaki Semenanjung

Posted on Mei 13, 2011

7


Menerawang senyap mata lelaki gagah itu. Berdiri di ujung semenanjung menembus tepi langit yang dibatasi garis merah tipis. Setipis harapannya bisa kembali ke tanah kelahirannya.

Kudekati dia dan bertanya. Dijawabnya dengan senyuman dan diperdalam dengan kilat sorot mata yang membawaku menemukan jawaban. Sebenarnya, merah tanah ini sama dengan anyir tanah kelahirannya. Dingin hembus anginnya sama dengan kering hembus angin di tanah kelahirannya. Dan asin air pesisir sama dengan segar air pegunungan tanah kelahirannya. Tiga hal yang membuatnya berani meninggalkan tanah kelahiran tercintanya. Demi menjaga tanah, hembus angin dan kesegaran air tanah kelahirannya.

Keesokan harinya, aku pun bertanya kepada tetua desaku mengenai lelaki semenanjung.

Dari cerita leluhur dan tokoh sekitar, dia bernama Wilis. Ia orang Raung terakhir. Konon, Raung terletak di tanah seberang, sebuah perbukitan di tanah semenanjung Blambangan. Perbukitan yang berabad lampau mendidik anak muda pilihan menjadi seorang pemimpin  negara semenjak jaman Majapahit.

Cerita yang sempat membuatku terheran-heran, jika saja tetua desa tidak bercerita mungkin saja aku tidak mengetahuinya. Makin aneh lagi, tetua mengajakku ke dalam sebuah ruangan khusus di Pura Pucak Mangu. Tidak semua boleh masuk pura legendaris ini, apa lagi masuk ke salah satu ruangan khususnya. Aku makin heran lagi.

Dalam wangi sesaji dan kehehingan menyergap pertanyaan Tetua, “Siapa yang kau maksud dalam pertanyaanmu tadi?”, tanyanya.

“Aku tidak tahu..”, jawabku lirih.

“Aku hanya melihatnya kemarin sore di ujung tanjung sana, dia berdiri dengan gagah menghadap lautan.”

Tetua mematapku dalam-dalam, sepertinya hendak memastikan apa yang baru saja ku ucapkan. Sejenak, beliau pun membelai kepalaku dan mengangguk-angguk tanpa ku tahu apa maksudnya.

Datang ke Mengwi demi sebuah pengabdian. Wilis kini berpeluh di ujung semenanjung. Pandangannya jauh menerawang menembus samudera menuju Raung, tanah kelahirannya.[]

Posted in: Bercerita